Harga Properti di Yogyakarta Melonjak

Harga Properti di Yogyakarta Melonjak

  • Jagad Property
  • Apr 04, 2018
  • Investasi Property

Harga tanah di kawasan perkotaan Yogyakarta terus meroket gila-gilaan, bahkan disebut saat ini menjadi salah satu yang tertinggi se Indonesia, selain Bali dan Bandung. Saat ini untuk mendapatkan tanah dengan harga murah harus mencari jauh dari kawasan atau di daerah pinggir dan bukan di kawasan perkotaan.

"Di Yogya dengan harga Rp 300 ribu - Rp 500 ribu harus minggir (pinggiran), karena ya satu, pertumbuhan terbatas di tiga daerah saja, Sleman, Kota dan Bantul," ujar Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) DIY Andi Wijayanto, pekan kemarin. Senada, Yosep Pranoto Ketua DPC KSPSI Sleman mengatakan yang sama. Warga Mlati, Sleman ini menyebut harga tanah di Sleman khususnya sudah sangat sulit untuk dibeli oleh masyarakat berpenghasilan rendah, seperti pekerja dan buruh. "Untuk Sleman harga tanah yang di ujung barat (seperti) di Seyegan Godean rata rata per meter RP 250 ribu per meter. Jalan Magelang Rp 1 sampai Rp 5 juta per meternya, kalau dilihat dari itu alangkah tidak mungkin buruh memiliki rumah di sekitaran itu," ujarnya. Harga tanah yang mahal tersebut yang mengakibatkan harga rumah di Yogyakarta terus naik dari waktu ke waktu. Andi Wijayanto mengatakan untuk membangun perumahan, 50 persen biayanya adalah untuk masalah lahan.

Rumah atau perumahan dengan harga murah dan bersubsidi terletak di daerah yang cukup jauh di pinggiran. Hal ini berkonsekuensi terhadap jarak menuju tempat kerja yang semakin jauh. Mahalnya tanah juga menjadi kendala dalam penyediaan rumah bersubsidi atau dengan harga FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) menjadi tidak mudah bagi pengembang. Meski sebenarnya permintaan untuk rumah murah tersebut sangat tinggi dengan peminat banyak. Menurutnya untuk peminat rumah dengan harga dibawah Rp 300 juta termasuk rumah bersubsidi di Yogyakarta tinggi dan sesuai dengan daya beli. Terlebih untuk FLPP terdapat kemudahan-kemudahan seperti adanya subsidi bunga dan kemudahan lain.

Terkait dengan anggota REI DIY yang menyuplai rumah dengan harga Rp 500 juta ke bawah, Andi mengatakan hanya 15 persen dari anggotanya. Sedangkan yang menyuplai rumah bersubsidi hanya ada dua perusahaan untuk tahun 2016 yang mendaftar. Untuk kenaikan harga tanah, Andi Wijayanto mengatakan bahwa secara konservatif kenaikan harga tanah adalah kurang lebih 10 persen di atas inflasi, itu hitung hitungan secara agregat. Karena menurutnya dari kondisi nyata di lapangan bisa bermacam-macam lebih dari angka tersebut seperti bisa hingga 40 persen. "Kalau inflasi 3 persen ya kenaikan minimal 13 persen, minimal seperti itu," katanya. "Ini harus disikapi, kalau tidak kasihan, yang menjadi problem terjadi gap (jarak) antara produk masyarakat menengah dengan masyarakat kebawah semakin ndak imbang, semakin lebar," lanjutnya. Menyediakan rumah bersubsidi dengan harga terjangkau akan semakin sulit, menurut Andi, jika pembebasan tanah masih mengikuti skema pasar dan kenaikan harga semakin ekstrim. Pemerintah diharapkan memiliki peran dalam hal ini, terlebih sudah ada UU Nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

sumber : http://jogja.tribunnews.com/2017/01/11/harga-tanah-di-yogya-naik-gila-gilaan

Comments